Wednesday, June 11, 2014

Cara Menjual Dengan Harga Mahal

Selama ini banyak diantara kita yang selalu ingin menjual produknya dengan harga yang murah. Kadang dengan embel-embel promosi, cuci gudang, sale, dan macam-macam istilah lainnya. Salah satu yang kerap digunakan, terutama oleh pelaku bisnis online, karena merasa produknya tidak bisa bersaing dengan produk jualan pesaing yang juga sama-sama berjualan online.

Padahal dalam banyak kesempatan, berbagai pakar marketing, tidak menyarankan Anda menjual produk dengan cara membanting harga. Percayalah, menjual produk dengan cara banting harga hanya akan melahirkan konsumen yang berorientasi pada harga, bukan pada toko Anda. Sehingga, Anda tidak akan pernah mendapatkan konsumen yang loyal. Justru sebaliknya, konsumen Anda akan sangat mudah berpindah ke yang menawarkan harga lebih murah.

Padahal, bisnis akan maju jika ditopang oleh konsumen jangka panjang yang lazim kita sebut sebagai pelanggan.

Dalam salah satu situs berita online, saya membaca sebuah tulisan yang menceritakan tentang salah satu Cawapres yang membeli sebuah makanan tradisional (kue pancong) yang biasanya hanya dijual Rp. 600/biji, tetapi hari itu dibeli oleh sang Cawapres seharga Rp. 50.000/pcs dan dia beli 2 biji.

Sekilas berita itu biasa-biasa aja, namanya juga lagi kampanye. Tetapi menurut saya, ada yang bisa dipelajari dari fenomena ini. Salah satunya adalah bahwa kita bisa menjual produk kita dengan mudah dan dengan harga jauh lebih mahal, jika kita mengetahui pasar dan waktu yang tepat.

Fakta ini, sangat dipercaya oleh perusahan besar. Pernah melihat launching sebuah produk perumahan atau automotif yang biasanya mengklaim penjualan fantastis hanya dalam hitungan jam? Ini bisa terjadi, karena saat launching itu mereka mengundang pembeli potensial (pasar yang tepat) dan mengemas penjualan dengan acara menarik pada launching tersebut (waktu yang tepat).

Bagaimana dengan pelaku bisnis online?
Menurut saya ini sebuah bisa kita tiru dengan skala bisnis. Paling sederhana adalah dengan memperhatikan follower social media kita. Sudahkah kita yang menggunakan sosial media ini masuk ke pasar yang tepat. Mari kita definisikan kembali siapa pasar kita, sehingga kita leluasa menjual tanpa perlu banting harga.

Tuesday, June 3, 2014

Indonesia Butuh Entrepreneur

Wirausahawan di Indonesia masih tergolong sangat kecil. Saat ini, jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia, maka setidaknya Indonesia masih membutuhkan 4,8 juta wirausahawan. Maklum, saat ini wirausahawan Indonesia tak lebih dari 0,2 % dari jumlah penduduk atau hanya sekitar 500.000 wirausahawan.

Padahal sejatinya, wirausahawan sangat dibutuhkan untuk menunjang perekonomian sebuah negara. Sebagai catatan pembanding, sebutlah misalnya Amerika yang memiliki proporsi pengusaha tak kurang dari 12% dari total populasi. Lalu Singapura yang memiliki 7% dari populasi. Adapun China dan Jepang memiliki 10% penduduk yang menjadi pengusaha. India 7% dan Malaysia juga memiliki populasi pengusaha 3%.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya tersebut, tentu populasi pengusaha Indonesia yang 0,2% tersebut sangatlah kecil. Untuk itu Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi anak muda yang mau menjadi entrepreneur. 

Sunday, June 1, 2014

Sukma Jahe ~ Memanfaatkan Kekayaan Lokal

Salah satu kegemaran saya adalah belajar melihat cara orang-orang sukses untuk mencapai kesuksesannya. Nah, saya mau menganalisa--tentu saja terbatas pengetahuan saya--tentang jalan yang ditempuh beberapa pengusaha untuk mencapai penjualan yang baik.

Nah, kali ini saya tertarik untuk mengintip cara berbisnis Rita Suryaningsih yang sukses menjual produk Sukma Jahe hingga beromset lebih dari 35juta perbulan. Produk yang ditawarkan pun sebenarnya bukan hal yang besar. Ia memasarkan Sarabba, salah satu minuman khas Makassar.

Menurut saya inilah beberapa hal yang membuat bisnisnya cukup diterima pasar.

1. Gunakan nama yang mudah. 
Penamaan memang terlihat sepele. Bagi orang Makassar, tentu "sarabba" bukanlah hal yang asing, tetapi karena Sukma Jahe pertama kali merintis usahanya di Bekasi, ia memilih nama Sukma Jahe. Lebih simpel dan lebih mudah diterima oleh orang.

2. Carilah pembeda
Walaupun produk ini adalah sarabba dalam kemasan, tetapi agar punya nilai tambah, maka harus hal-hal unik yang dimiliki produk tersebut. Sukma jahe menggunakan jahe lokal serta krimer yang terbuat dari ubi sehingga low kolestrol.

3. Temukan pasar yang tepat
Untuk mendukung produknya, Sukma Jahe masuk ke berbagai toko-toko souvenir untuk oleh-oleh di Makassar, menurut saya, pilihan ini cukup tepat untuk menjadikan produk ini sebagai bagian dari oleh-oleh khas Makssar.

4. Miliki mimpi besar
Ada mimpi besar dibalik pembuatan produk Sukma Jahe yaitu ingin mengangkat nama Makassar, dan menurut saya seperti inilah sebuah produk yang baik. Ia tidak sekadar hadir karena ingin menjual, tetapi ada idealisme dibaliknya.